Selasa, 11 Agustus 2015

Perahu Impian di Hulu Kapuas


Sampai saya di desa Bungan Jaya Dusun Nanga Bungan di sambut warga dan anak – anak yang saling bahu mebahu membawakan barang – barang di perahu. Ini kedua kalinya saya ke Bungan sebelumnya yang pertama dengan pengajar muda VIII untuk melakukan pisah sambut di desa.

Saat pertama kali saya masuk kekelas mereka terlihat sangat antusias dari sorot mata mereka, walau mereka hanya berempat, ya kelas V yang mana saya menjadi wali kelasnya, muridnya hanya berjumlah 4 orang saja, 3 laki – laki dan 1 perempuan. Hari itu kami belajar Ilmu Pengetahuan Alam dan Matematika. Tampak di wajah mereka antusias bercampur guratan – guratan kebingungan, ternyata mereka anak – anak yang cerdas dengan cukup saya memberikan penjelasan sekali saja mereka langsung mengingat dan mereka tidak pernah mencatat. Ya karena ingatan mereka kuat sekali. Tapi walau begitu saya meminta mereka untuk mencatat untuk dapat di ulang belajar di rumah.
Tidak sulit bagi saya untuk menghafal nama mereka satu persatu, Reno, Saung, Issay dan Susi. Setelah pelajaran selesai dan akan pulang anak – anak  menemui saya dan mereka berkata pak guru ali  ayo kita main ke sungai.
Saat sampai di tepi sungai kapuas yang deras, saya duduk di  atas batu besar dan ingatan saya kembali ke masa kecil dulu, ya dulu aku pun sama seperti mereka, setelah pulang sekolah aku langsung menuju ke sungai untuk bermain dengan teman – teman sekedar berenang atau mencari ikan. Dan kuhabiskan waktu bermain saya dengan teman – teman di sungai sampai di rumah acapkali kena marah oleh bapak  karena pulang terlalu sore.
Tiba – tiba lamunan ku kembali ke mereka yang sudah terjun dari atas batu besar ke sungai. Dan terbawa derasnya arus sungai kapuas hulu. Pak guru ayo berenang, tanya satu murid ke saya pak guru ali bisa berenang ? iya bapak bisa berenang, seraya  saya melompat ke sungai bersama – sama.
Seperti berenang di sungai merupakan wisata gratis bagi mereka untuk melupakan sejenak buku dan pena mereka, sambil tertawa lepas bersama teman – teman mereka. Ya aku pun merasakan hal yang sama kala itu, terlalu egois ketika aku harus selalu meminta mereka untuk dapat mengikuti keinginan ku untuk belajar dengan pena dan buku mereka  di sekolah.
Walau begitu sambil bermain di tepi sungai kami masih sempat untuk belajar bersama, hewan apa yang hidup di air dan apa ciri – cirinya tanya ku ke mereka semua. Mereka semua menjawab bersama ikan pak guru. Ciri – cirinya apa ? punya sirip pak guru, fungsinya untuk apa ? untuk berenang.
Melihat wajah gembira mereka hati saya sangat senang, barangkali wajah gembira saat saya kecil  seperti mereka saat bermain di sungai. Derasnya sungai kapuas seperti sama derasnya aliran darah di tubuh mereka, batu – batu besar seperti sudah menjadi sahabat baik mereka di kala bermain bersama  di sungai. Sungai kapuas hulu sudah seperti denyut nadi mereka.
Terlalu naif ketika ada yang berkata pengorbanan kamu luar biasa yang sudah mau ke daerah yang jauh, ini bukan pengorbanan  tapi anugerah yang patut dis yukuri karena dapat bersama mereka untuk mengukir perahu impian dan cita – cita besar mereka, kenapa karena disaat yang bersama saya tanya cita – cita mereka ingin menjadi apa ? jawab mereka dengan tegas tanpa keraguan, polisi, dokter, guru dan  tentara .
Semoga impian mereka yang begitu kemilau mengalahkan kemilau biji – biji emas,impian mereka sederas, mengalahkan derasnya  arus sungai kapuas hulu  dan impian mereka sekeras, mengalahkan kerasnya bebatuan. Suatu saat nanti mereka akan menaiki perahu impian mereka untuk mengarungi kerasnya kehidupan ini, namun aku yakin perahu impian kalian akan mengantarkan kalian menuju kesuksesan.


0 komentar:

Posting Komentar