Sampai saya di
desa Bungan Jaya Dusun Nanga Bungan di sambut warga dan anak – anak yang saling
bahu mebahu membawakan barang – barang di perahu. Ini kedua kalinya saya ke
Bungan sebelumnya yang pertama dengan pengajar muda VIII untuk melakukan pisah
sambut di desa.
Saat pertama
kali saya masuk kekelas mereka terlihat sangat antusias dari sorot mata mereka,
walau mereka hanya berempat, ya kelas V yang mana saya menjadi wali kelasnya,
muridnya hanya berjumlah 4 orang saja, 3 laki – laki dan 1 perempuan. Hari itu
kami belajar Ilmu Pengetahuan Alam dan Matematika. Tampak di wajah mereka
antusias bercampur guratan – guratan kebingungan, ternyata mereka anak – anak
yang cerdas dengan cukup saya memberikan penjelasan sekali saja mereka langsung
mengingat dan mereka tidak pernah mencatat. Ya karena ingatan mereka kuat
sekali. Tapi walau begitu saya meminta mereka untuk mencatat untuk dapat di
ulang belajar di rumah.
Tidak sulit
bagi saya untuk menghafal nama mereka satu persatu, Reno, Saung, Issay dan
Susi. Setelah pelajaran selesai dan akan pulang anak – anak menemui saya dan mereka berkata pak guru ali ayo kita main ke sungai.
Saat sampai di
tepi sungai kapuas yang deras, saya duduk di
atas batu besar dan ingatan saya kembali ke masa kecil dulu, ya dulu aku
pun sama seperti mereka, setelah pulang sekolah aku langsung menuju ke sungai
untuk bermain dengan teman – teman sekedar berenang atau mencari ikan. Dan
kuhabiskan waktu bermain saya dengan teman – teman di sungai sampai di rumah
acapkali kena marah oleh bapak karena
pulang terlalu sore.
Tiba – tiba
lamunan ku kembali ke mereka yang sudah terjun dari atas batu besar ke sungai.
Dan terbawa derasnya arus sungai kapuas hulu. Pak guru ayo berenang, tanya satu
murid ke saya pak guru ali bisa berenang ? iya bapak bisa berenang, seraya saya melompat ke sungai bersama – sama.
Seperti
berenang di sungai merupakan wisata gratis bagi mereka untuk melupakan sejenak
buku dan pena mereka, sambil tertawa lepas bersama teman – teman mereka. Ya aku
pun merasakan hal yang sama kala itu, terlalu egois ketika aku harus selalu
meminta mereka untuk dapat mengikuti keinginan ku untuk belajar dengan pena dan
buku mereka di sekolah.
Walau begitu sambil
bermain di tepi sungai kami masih sempat untuk belajar bersama, hewan apa yang
hidup di air dan apa ciri – cirinya tanya ku ke mereka semua. Mereka semua
menjawab bersama ikan pak guru. Ciri – cirinya apa ? punya sirip pak guru,
fungsinya untuk apa ? untuk berenang.
Melihat wajah
gembira mereka hati saya sangat senang, barangkali wajah gembira saat saya
kecil seperti mereka saat bermain di
sungai. Derasnya sungai kapuas seperti sama derasnya aliran darah di tubuh
mereka, batu – batu besar seperti sudah menjadi sahabat baik mereka di kala bermain
bersama di sungai. Sungai kapuas hulu
sudah seperti denyut nadi mereka.
Terlalu naif
ketika ada yang berkata pengorbanan kamu luar biasa yang sudah mau ke daerah
yang jauh, ini bukan pengorbanan tapi
anugerah yang patut dis yukuri karena dapat bersama mereka untuk mengukir
perahu impian dan cita – cita besar mereka, kenapa karena disaat yang bersama
saya tanya cita – cita mereka ingin menjadi apa ? jawab mereka dengan tegas
tanpa keraguan, polisi, dokter, guru dan tentara .
Semoga impian
mereka yang begitu kemilau mengalahkan kemilau biji – biji emas,impian mereka
sederas, mengalahkan derasnya arus
sungai kapuas hulu dan impian mereka
sekeras, mengalahkan kerasnya bebatuan. Suatu saat nanti mereka akan menaiki
perahu impian mereka untuk mengarungi kerasnya kehidupan ini, namun aku yakin
perahu impian kalian akan mengantarkan kalian menuju kesuksesan.




0 komentar:
Posting Komentar