Sabtu, 16 Februari 2013

Kondisi Perpolitikan Nasional Dan Peran Kemahasiswaan Saat Ini


Hasil Temuan Lembaga Survei Indonesia (LSI) selama 1-12 Februari 2012, secara umum menunjukkan kondisi politik nasional mengalami keterpurukan.
Dalam survei itu, responden diminta pendapatnya mengenai kondisi politik di Tanah Air. LSI mencatat, hanya 20,9 persen responden yang menyatakan situasi perpolitikan Indonesia berada dalam kondisi baik, adapun 2,0 persen lainnya menilai sangat baik, dan 34,2 persen menyatakan sedang atau normatif.

Hal ini disebabkan banyak faktor,salah satu faktornya adalah : Tingkat kepercayaan masyarakat terhadapa anggota legislatif  mulai turun disebabkan oleh faktor korupsi yang dilakukan oleh beberapa anggota legislatif yang berada disenayan, salah  satunya kasus century yang sampai saat ini belum diputuskan  siapa dalang di balik kasus bailout century dimana kasus jalan di tempat, ditambah lagi kasus wisma atlet yang mencuat sehingga menarik beberapa anggota DPR RI yang memunculkan  kasus baru yang sungguh fantastis kasus suap kemenpora, kasus suap kemendikbud  yang membuat kalangan masyarakat kurang yakin dengan partai politik dimana partai politik dimata rakyat menjadi buruk akibat ulah – ulah nakala anggota DPR RI belum lagi yang membuat sakit hati rakyat indonesia al quran juga dikorupsi.
Korupsi yang dilakukan anggota dpr bukan sendirian melainkan berjamaah sehingga rakyat melihat tidak ada bedanya satu partai dengan partai lain ketika sudah memasuki senayan, rakyat kebanyakan berfikir semua angggota dpr yang sudah duduk disenayan paling – paling berusaha mengembalikan dana kampanye yang telah dilakukan untuk duduk di senayan yang mana dana yang digelontorkan sampai ratusan juta bahkan miliaran.
Menurut Priyo Budi Santoso dalam mata najwa tanggal 23 januari 2013 yang mengatakan bahwa publik figur untuk duduk anggota DPR membutuhkan dana sekita 300 sampai 600 juta, kalangan brokrat, polisi dan TNI menghabiskan dana sekitar 800 sampai 1,2 Milyar, untuk kalangan pengusaha bisa menghabiskan dana sampai 3 M sampai dengan  6 M, sedangkan gaji anggota DPR bersihnya yang sudah di potong, atau bersihnya hanya 20 jutaan sebulannya setahunya 240 juta dikalikan 5 tahun satu periode menjabat hanya 1,2  M, berarti yang dikeluarkan lebih besar dari yang didapatkan menurut hukum ekonomi ini rugi.
Hal ini menyebab banyak mulai berfikir cerdas bahwa sudah tidak bisa percaya lagi terhadap anggota partai yang mencalonkan diri menjadi anggota DPR belum lagi dalam proses kampanyenya mereka melakukan money politik lagi. Apalagi didaerah – daerah dimana masyarakat dari kalanga menengah kebawah dimana kurangnya pemahaman politik yang bersih sehingga mereka lebih memilih uang 50 ribu untuk memenangkan salah satu anggota DPR selama 5 tahun, dan kita dirugikan 5 tahun dengan uang 50 ribunya dimana tidak ada perubahan yang diberikan anggota DPR yang telah menang karena tidak ada kinerjanya yang diberikan untuk dapilnya, bahkan ada juga anggota DPR yang lupa dapil mana saja ia bisa duduk di anggota dpr sungguh miris.

Belum lagi ditambah dengan angka Golput yang terus naik di pemilu 2004 dan 2009 dimana pemenangnya adalah partai golput, ini adalah data angka golput dari tahun 1955 hingga 2009, jumlah golput terus meningkat meski alasan untuk golput berbeda. Bila golput dihitung dari pemilih yang tidak datang dan suara tidak sah, tercatat 12,34 persen (1955), 6,67 persen (1971), 8,40 persen (1977), 9,61 persen (1982), 8,39 persen (1987), 9,05 persen (1992), 10,07 persen (1997), 10,40 persen (1999), 23,34 persen (Pemilu Legislatif 2004), 23,47 persen (Pilpres 2004 putaran I), 24,95 persen (Pilpres 2004 putaran II). Pada pilpres putaran II, angka 24,95 persen setara dengan 37.985.424 pemilih. Sedangkan pada Pemilu Legislatif 2009, bila jumlah golput sekitar 30 persen atau dikalikan dengan DPT sesuai dengan Perppu No 1/2009 sebesar 171.265.442 jiwa, maka jumlah golput pada 2009 setara dengan 51.379.633 pemilih.
Sungguh miris melihat kondisi politik indonesia  saat ini belum lagi saat ini masuk tahun 2013 menurut beberapa pengamat mengataka bahwa tahun 2013 adalah tahun politik, dimana semua partai dan pribadi yang ingin maju pada pilpers 2014 mulai menampakkan dirinya berbagai pencitraan dilakukan untuk menarik simpati rakyat indonesia.

            Ditambah dengan beberapa media yang sudah tidak independent dalam pemberitaan sehingga masyarakat dijejali dengan berita – berita keburukan saja, tidak ada berita yang menampilkan kinerja – kinerja baik beberapa anggota dpr dan pemerintah, menurut saya salah satu turunnya tingkat kepercayaan kepada partai karena media karena sangat sedikit berita yang memperlihatkan kerja – kerja baik anggota dpr dan pemerintahan, sehingga citra yang muncul citra tidak baik dari annggota dpr dan pemerintahan.

            Untuk semua partai peserta pemilu 2014 seperti butuh kerja ekstra untuk meningkat popularitas dan elektabilitas partai dalam menghadapai pemilu 2014 yang tinggal tersisa 1, 5 tahun lagi.

            Itulah kondisi perpolitikan dari sudut pandang saya dimana berpolitikan indonesia akan panas pada tahun 2013 ini, entah akan terjadi peristiwa apa pada tahun 2013 apakah akan menjadi sebuah tonggak sejarah bagi indonesia untuk menjadi negara yang adil dan sejahtera atau malah sebaliknya semakin terpuruk negeri ini karena berpolitikan yang tidak bersih dan baik

            Nah peran mahasiswa dalam kondisi seperti ini seharusnya mahasiswa sebagai agent of change dan sosial control berbagai kebijakan pemerintah dapat di wujudkan dengan membangun organisasi/kelompok/aliansi yang berperan mengawasi dan memberi masukan pada saat perumusan suatu kebijakan pemerintah, ikut bersama-sama mengawasi implementasi kebijakan yang telah dilakukan, dan mengawasi sekaligus mengevaluasi efektivitas saat pelaksanaan kebijakan dan manfaatnya bagi masyarakat.

            Selain itu juga mahasiswa sebagai agent of change harus dapat memberikan perubahan yang baik dengan sosial control yang dimiliki oleh mahasiswa dimana kejadian reformasi 1998  itu telah membuktikan sosial control mahasiswa terhadap pemerintahan, dimana mahasiswa udah gerah terhadap pemerintahan orde baru dengan berbagai macam masalah yang ada maka mahasiswa melakukan pergerakan reformasi.

            Namun saat ini sosial control mahasiswa mulai berkurang dimana mahasiswa sangat sedikit dan bahkan banyak tidak berminat ikut organisasi apalagi politik kebanyakan mereka lebih senang study oriented dibandingkan harus ikut organisasi yang kadang harus turun ke jalan dan demo.

            Peran mahasiswa sangat penting untuk bisa berkontibusi terhadap negeri ini anggota DPR saat ini mereka adalah rata – rata para aktivis 98 yang menyuarakan reformasi, namun banyak juga mereka tersandung korupsi karena idealisme mahasiswa luntur ketika memasuki sistem berokrasi senayan yang luar biasa.


oleh Ali akbar al ayubi

0 komentar:

Posting Komentar