| Alam Hulu Sungai Kapuas |
Deru mesin –mesin robin tempel yang terus meraung – raung kesana
kemari, memberi isyarat betapa kerasnya mendorong perahu untuk melaju mencapai
tujuan. Longlongan anjing – anjing yang saling bersautan membuat bulu kuduk
merinding menambah romansa pertualangan yang sebenarnya.
Materi, gaji
tunjangan dan apapun itu. menjadi tidak bernilai apa –apa disaat yang
bersama melihat senyum tawa bahagia
mereka. Disaat mereka berlari kesana kemari tanpa rasa takut sedikit pun, sibuk
dengan aktivitas mereka, percikan – percikan air yang mengenai tubuh disaat
canda tawa di tepi sungai.
Disaat
ada yang datang dan bertanya bisa makan rusa, atau hanya sekedar menyuguhkan
secangkir kopi hitam menemani malam –
malam yang begitu sahdu untuk dilewatkan. Mendengarkan sejarah – sejarah yang
mungkin tidak semua orang mengetahuinya. Budaya yang begitu luas tak akan habis
di ceritakan.
Atau seorang akik
perempuan (nenek) sedang demam, bertanya “pak guru demam kah ?
Sudah minum obat ? minum paracetamol pak guru” yang baru mengenal nama.
Bapak – bapak datang dan berkata walau kita beda suku dan budaya atau bahkan
ideologi tapi kita masih di tanah yang sama, tanah air indonesia, kita terikat
menjadi saudara sebangsa dan setanah air.
Lalu Nikmat Tuhan
mu manakah yang kamu dustakan ? lalu nikmat mana yang kamu berpaling untuk
tidak mensyukurinya. Terlalu banyak buliran buliran embun pagi yang menetes
jatuh kebumi yang tidak terlihat, begitu juga dengan nikmat tuhan yang begitu
banyak dan tidak terhitung.
Ya inilah sekolah
kehidupan yang nyata, sekolah yang mengajar banyak pelajaran yang hanya di
dapat di kehidupan nyata, bukan semu, kehidupan abu – abu atau kehidupan
khayalan. Yang tampak begitu indah dan mudah. Seindah pemandangan yang kita
lihat tanpa menyadari siapa yang menciptakannya, semudah kita membalikkan
telapak tangan kita, tanpa sadar bagaimana telapak tangan ini bisa di bolak
balik.
Terlalu religius
sekali terlalu ketuhanan sekali, apa – apa di hubungkan dengan tuhan. Ah itu
bagi mereka yang tidak dapat merasakan tuhan atau bahkan mereka belum menemukan tuhan
itu apa. Kehidupan ini sudah seperti tergariskan. Naik kelas atau tetap tinggal
kelas. Menjadi juara atau tidak menjadi apa – apa. Karena ini sekolah kehidupan
ya sekolah kehidupan yang mana murid dan gurunya satu seperti mata uang yang memiliki dua sisi. Satu
sisi guru dan satu sisi murid. Satu sisi orang harus memilihnya untuk bisa
memulai pertandingan ini.
Sekolah kehidupan
ini bukan mengajar 1 + 1 = 2, di sekolah kehidupan ini bisa jadi 1 + 1 = 11
atau 1+1 = 3 atau 1+ 1 = jawaban apa yang kalian inginkan. Sebuah kenyataan yang tampak semu, ya karena
murid akan mulai kebingungan dengan jawaban mana yang akan di pilih, bisa – bisa salah pilih. Atau memang jawaban
ini semua benar semua ah. itu kembali pada guru yang mengajarkan ke muridnya
Namun di sekolah
kehidupan yang di jalani semua tampak jelas sejelas sinar matahari yang
bersinar di atas hutan kalimantan. Melihatkan mana bukit mana lembah, mana
sungai mana daratan .
Disaat hujan turun
dengan deras tanpa memandang mana bukit, mana lembah, mana pohon besar dan kecil
mereka semua merasakan basah dan dinginnya air hujan itu. Dan hujan tidak
pernah menyesal, kecewa, sedih bahkan mengutuk dirinya yang jatuh berkali –
kali di pohon- pohon yang akan mati atau
lembah tandus yang kering. Pohon – pohon
berduri yang tidak pernah bisa menghargai hujan, ya tetesan hujan selalu
disambut dengan duri – duri di tubuhnya. Tapi air hujan tidak pernah berhenti
atau menyesal. Bahkan hujan itu jatuh dengan membuat irama, irama harmoni yang tidak bisa di tiru dengan cara apapun
itulah hujan, jadilah engkau hujan yang membasahi hati – hati yang gersang.
Walau terkadang banyak yang mengutuknya , namun
hujan selalu di nantikan kehadirannya. Yang menjadikan padi berisi dan semakin merunduk dan saat tiba waktunya tiba
maka banyak orang yang berbahagia. Dan rasa bahagia itu di tunjukkan dengan
berbagai macam ekspresi dan tindakan.
Hujan oh hujan begitu bangganya jika bisa menjadi
dirimu, tidak ada ucapan keluhan tau bahkan guratan kecewa di setiap tetes air
yang turun. Engkau turun dengan penuh keyakinan tanpa ada keraguan sedikit
pun.
Dan tiba – tiba angin pun datang membawa hujan
pergi, pergi kemana hujan di harapkan kedatangannya. Angin engkau tidak
terlihat namun engkau bisa di rasakan, hembusan sejuk yang menerpa setiap sudut
bagian tubuh ini. Membelai halus rambut ini, menyejuk bagi mereka yang
merasakan terpaan mu. Angin oh angin aku tak ingin angin menjadi angkara murka
yang merusak segalanya. Jadiah angin yang tak terlihat tapi dapat dirasakan dan
membelai mesra setiap engkau menerpa mereka. Angin yang mengalir deras, sederas
aliran darah dalam tubuh.
Tiba – tiba angin dan hujan menghilang, yang muncul
sinar yang menyilaukan yang memberika kehangatan bagi mereka terkena sinarnya.
Cukuplah kita menghangatkan mereka yang kedinginan. Dingin dari masa lalu.
Membuat hati membeku. Cukuplah memberikan sedikit sinar kehangatan di hati –
hati mereka, mencair salju abadi masa lalu. Tapi bukan pula kita menjadi efek
rumah kaca yang menimbulkan masalah baru. Ketika hati – hati yang sudah mencair dari masa lalu
saatnya untuk melaju dengan yatch(kapal
mewah super cepat) kebahagian. Menjemput
impian yang lama tertinggal di dalam kotak misteri yang telah usang. Yang sengaja
kita pendam dalam – dalam karena kecewa akan keadaan. Yang menyebabkan efek
domino yang membeku hati – hati mereka.
Atau cahaya yang menerangi malam – malam panjang
mereka, sekedar menunjukkan jalan pulang ke rumah, hal sederhana, namun hal –
hal sederhana inilah yang terpatri di hati mereka bahkan tidak akan pernah
berkarat atau usang di makan waktu. Yang ada semua itu hilang disaat mereka
juga tak bisa bercerita lagi dimana ajal telah menjemput. Cerita – cerita
sederhana itu bagai bola salju snowball awalnya kecil namun bergulir dan terus
bergulir menghasilkan bola salju yang begitu besar. Itu semua di mulai dengan
hal – hal sederhana.




0 komentar:
Posting Komentar