Jumat, 21 Agustus 2015

Isyarat Alam

           
Alam Hulu Sungai Kapuas 
 Perahu kehidupan yang terus melaju menerjang arus kapuas, deru angin hutan betung kerihun menderu dengan begitu perkasanya menggoyangkan pepohonan besar yang bergoyang kemana arah angin pergi.
             Deru mesin –mesin robin tempel yang terus meraung – raung kesana kemari, memberi isyarat betapa kerasnya mendorong perahu untuk melaju mencapai tujuan. Longlongan anjing – anjing yang saling bersautan membuat bulu kuduk merinding menambah romansa pertualangan yang sebenarnya.
Materi, gaji  tunjangan dan apapun itu. menjadi tidak bernilai apa –apa disaat yang bersama melihat senyum  tawa bahagia mereka. Disaat mereka berlari kesana kemari tanpa rasa takut sedikit pun, sibuk dengan aktivitas mereka, percikan – percikan air yang mengenai tubuh disaat canda tawa di tepi sungai.
                Disaat ada yang datang dan bertanya bisa makan rusa, atau hanya sekedar menyuguhkan secangkir kopi hitam  menemani malam – malam yang begitu sahdu untuk dilewatkan. Mendengarkan sejarah – sejarah yang mungkin tidak semua orang mengetahuinya. Budaya yang begitu luas tak akan habis di ceritakan.
                Atau seorang akik perempuan (nenek) sedang demam, bertanya “pak guru demam kah ?
Sudah minum obat ? minum paracetamol pak guru” yang baru mengenal nama. Bapak – bapak datang dan berkata walau kita beda suku dan budaya atau bahkan ideologi tapi kita masih di tanah yang sama, tanah air indonesia, kita terikat menjadi saudara sebangsa dan setanah air.
               
                Lalu Nikmat Tuhan mu manakah yang kamu dustakan ? lalu nikmat mana yang kamu berpaling untuk tidak mensyukurinya. Terlalu banyak buliran buliran embun pagi yang menetes jatuh kebumi yang tidak terlihat, begitu juga dengan nikmat tuhan yang begitu banyak dan tidak terhitung.
               
                Ya inilah sekolah kehidupan yang nyata, sekolah yang mengajar banyak pelajaran yang hanya di dapat di kehidupan nyata, bukan semu, kehidupan abu – abu atau kehidupan khayalan. Yang tampak begitu indah dan mudah. Seindah pemandangan yang kita lihat tanpa menyadari siapa yang menciptakannya, semudah kita membalikkan telapak tangan kita, tanpa sadar bagaimana telapak tangan ini bisa di bolak balik.

                Terlalu religius sekali terlalu ketuhanan sekali, apa – apa di hubungkan dengan tuhan. Ah itu bagi mereka yang tidak dapat merasakan tuhan atau bahkan mereka belum menemukan tuhan itu apa. Kehidupan ini sudah seperti tergariskan. Naik kelas atau tetap tinggal kelas. Menjadi juara atau tidak menjadi apa – apa. Karena ini sekolah kehidupan ya sekolah kehidupan yang mana murid dan gurunya satu  seperti mata uang yang memiliki dua sisi. Satu sisi guru dan satu sisi murid. Satu sisi orang harus memilihnya untuk bisa memulai pertandingan ini.
               
                Sekolah kehidupan ini bukan mengajar 1 + 1 = 2, di sekolah kehidupan ini bisa jadi 1 + 1 = 11 atau 1+1 = 3 atau 1+ 1 = jawaban apa yang kalian inginkan.  Sebuah kenyataan yang tampak semu, ya karena murid akan mulai kebingungan dengan jawaban mana yang akan di pilih,  bisa – bisa salah pilih. Atau memang jawaban ini semua benar semua ah. itu kembali pada guru yang mengajarkan ke muridnya

                Namun di sekolah kehidupan yang di jalani semua tampak jelas sejelas sinar matahari yang bersinar di atas hutan kalimantan. Melihatkan mana bukit mana lembah, mana sungai mana daratan .              
                Disaat hujan turun dengan deras tanpa memandang mana bukit, mana lembah, mana pohon besar dan kecil mereka semua merasakan basah dan dinginnya air hujan itu. Dan hujan tidak pernah menyesal, kecewa, sedih bahkan mengutuk dirinya yang jatuh berkali – kali di pohon- pohon  yang akan mati atau lembah tandus yang kering.  Pohon – pohon berduri yang tidak pernah bisa menghargai hujan, ya tetesan hujan selalu disambut dengan duri – duri di tubuhnya. Tapi air hujan tidak pernah berhenti atau menyesal. Bahkan hujan itu jatuh dengan membuat irama, irama harmoni  yang tidak bisa di tiru dengan cara apapun itulah hujan, jadilah engkau hujan yang membasahi hati – hati yang gersang.

Walau terkadang banyak yang mengutuknya , namun hujan selalu di nantikan kehadirannya. Yang menjadikan padi berisi dan  semakin merunduk dan saat tiba waktunya tiba maka banyak orang yang berbahagia. Dan rasa bahagia itu di tunjukkan dengan berbagai macam ekspresi dan tindakan.

Hujan oh hujan begitu bangganya jika bisa menjadi dirimu, tidak ada ucapan keluhan tau bahkan guratan kecewa di setiap tetes air yang turun. Engkau turun dengan penuh keyakinan tanpa ada keraguan sedikit pun. 

Dan tiba – tiba angin pun datang membawa hujan pergi, pergi kemana hujan di harapkan kedatangannya. Angin engkau tidak terlihat namun engkau bisa di rasakan, hembusan sejuk yang menerpa setiap sudut bagian tubuh ini. Membelai halus rambut ini, menyejuk bagi mereka yang merasakan terpaan mu. Angin oh angin aku tak ingin angin menjadi angkara murka yang merusak segalanya. Jadiah angin yang tak terlihat tapi dapat dirasakan dan membelai mesra setiap engkau menerpa mereka. Angin yang mengalir deras, sederas aliran darah dalam tubuh.

Tiba – tiba angin dan hujan menghilang, yang muncul sinar yang menyilaukan yang memberika kehangatan bagi mereka terkena sinarnya. Cukuplah kita menghangatkan mereka yang kedinginan. Dingin dari masa lalu. Membuat hati membeku. Cukuplah memberikan sedikit sinar kehangatan di hati – hati mereka, mencair salju abadi masa lalu. Tapi bukan pula kita menjadi efek rumah kaca yang menimbulkan masalah baru. Ketika  hati – hati yang sudah mencair dari masa lalu saatnya untuk melaju dengan  yatch(kapal mewah super cepat)  kebahagian. Menjemput impian yang lama tertinggal di dalam kotak misteri yang telah usang. Yang sengaja kita pendam dalam – dalam karena kecewa akan keadaan. Yang menyebabkan efek domino yang membeku hati – hati mereka.

Atau cahaya yang menerangi malam – malam panjang mereka, sekedar menunjukkan jalan pulang ke rumah, hal sederhana, namun hal – hal sederhana inilah yang terpatri di hati mereka bahkan tidak akan pernah berkarat atau usang di makan waktu. Yang ada semua itu hilang disaat mereka juga tak bisa bercerita lagi dimana ajal telah menjemput. Cerita – cerita sederhana itu bagai bola salju snowball awalnya kecil namun bergulir dan terus bergulir menghasilkan bola salju yang begitu besar. Itu semua di mulai dengan hal – hal sederhana.




0 komentar:

Posting Komentar