| Balon Impian |
Tepat 3
purnama di kalimantan, banyak yang terjadi di tiga purnama yang telah ku
lewati, suka duka menjadi seorang pengajar muda sudah bisa dirasakan atau
bahkan aku sudah kebal dengan rasa duka – duka yang terus menghampiri ku.
Kekebalan yang ku peroleh dari suka yang terus hadir setiap harinya dari murid
– murid ku. Aku sadar untuk mengubah sesuatu tidak semudah yang di bayangkan di
saat pelatihan, banyak proses yang harus di lewati untuk mencapai perubahan
itu.
Dengan
anak kelas yang kinestetik aku tidak langsung menjudge semua kesalahan yang
yang mereka lakukan, atau menghukum mereka dengan push up atau sit up yang
biasa mereka dapatkan disaat melakuakn kesalahan. Untuk pertama aku coba masuk
ke dunia mereka terlebih dahulu, ya dunia mereka adalah bermain, kami bermain
ke sungai berenang, mengajak bermain catur atau dam agar mereka tidak mengira
aku sebagai orang baru yang kata – katanya tidak begitu penting. Lama lkelamaan
mereka dan aku tidak ada sekat yang memisahkan murid dengan gurunya. Mereka sering
berkunjung ke rumah dinas guru untuk sekedar say hello atau hanya nanya boleh
baca buku pak ?.
Hari
ini aku mulai melihat perubahan di mereka yang mana guru yang mengajar
sebelumnya mengatakan bahwa kelas yang aku pegang saat ini juara nakalnya, tapi
itu semua sudah berubah sedikit mereka sudah mulai menerapkan positive disiplin
yang mereka buat, mereka sudah tidak makan dan minum di kelas, ribut berlari di
atas meja atau ke wc beramai – ramai sampai kamar mandi tidak muat.
Mereka
tidak nakal, mereka sangat kritis terhadap sesuatu, jika ada sesuatu yang di
jelaskan maka mereka tidak takut untuk bertanya kenapa bisa begitu, atau loh
pak caranya kenapa begitu, maka jika guru yang tidak siap dengan sebuah jawaban
yang dapat memuaskan mereka maka satu bisa marah dan menganggap mereka nakal.
Hari
ini mereka belajar mengenal benda dan sifat – sifatnya di bumi , lalu ku ajak
mereka belajar di luar kelas dan ah ternyata mereka cepat sekali menangkap
materi yang aku sampaikan, padat, cair dan gas ya mereka mengalami semuanya
terlebih dahulu, padat mereka mengumpul batu kayu yang begitu banyak di sekitar
mereka. Air yang berlimpah di tepi sungai yang hanya berjarak 3 meter dari
sekolah kami. Lalu gas mereka aku ajarkan biar mereka mengalami dengan meniup
balon dan semua itu seakan –akan belum pernah mereka alami selama belajar di
sekolah.
Setelah
selesai lalu balon- balon untuk belajar tadi ku minta mereka untuk meniupnya
dan menuliskan nama dan cita – cita mereka lalu ku gantung di atas langit –
langit kelas agar mereka melihat setiap hari cita – cita mereka, ya kami
menyebutnya balon cita – cita. Yang balonya habis anginnya terlebih dahulu maka cita – citanya di aminin oleh Sang Maha
Kuasa.
Di
kelas juga ku buat koran pemaaf , ya setiap mereka melakukan kesalahan baik
ribut, berkelahi di kelas, makan minum dan pakaian tidak rapi maka mereka harus
menulis permintaan maaf dan tidak akan mengulang lagi di kertas stikinot lalu
di tempel pada koran pemaaf. Kenapa aku melakukan itu, aku ingin mereka menulis
dan memerintahkan ke bawah alam sadar mereka untuk tidak mengulangi kesalahan
yang di langgar mereka lagi. Aku tidak ingin melakukan hukuman berbentuk fisik
push up atau yang lain karena murid – murid ku ini fisiknya sangat kuat, push
up itu hal mudah bagi mereka. Dulu pernah ada cerita murid yang memilih push up
seribu kali dari pada menghapal assosiatif, komutatif dan distributif. Aku
tidak ingin hal itu terulang lagi kenapa, anak – anak tidak akan pernah bisa,
jika mereka merasa sulit sedikit maka mereka memilih hukuman yang bersifat
fisik.
Mereka
juga sudah mulai bisa menggunakan kartu toilet yang aku buat, kartu toilet
untuk siswa dan siswi, fungsinya untuk membuat mereka lebih teratur dan tertib
di kelas saat izin ke kamar kecil. Itu yang membuat hati ini gembira, karena
aku yakin bahwa mereka bukanlah anak – anak nakal tapi mereka anak – anak
pintar dengan kelebihan kinestetik.




0 komentar:
Posting Komentar