Kamis, 25 Juni 2015

Halo Tikun Hovongan (Jejak Cerita Nanga Bungan)

Tidak ada seorang pun yang mengetahui rencana tuhan buat kita, jum'at pagi pukul 09.00 wib naik perahu tempel dari puttusibau ibu kota kabupaten Kapuas Hulu dan tepat pukul 17.00 wib untuk pertamakali menginjakkan kaki di Nanga Bungan atau disebut Hovongan Desa di Hulu Sungai Kapuas sungai terpanjang di Indonesia setelah menempuh perjalanan sejauh 90 km melalui jalur sungai kapuas, yang menyajikan indahnya Alam tanah Borneo, Masyarakat aslinya adalah suku Dayak Punan, dan SDN 17 Nanga Bungan adalah sekolah yang akan menjadi tempat saya belajar satu tahun kedepan.
Bersama Anak - anak di jembatan Gantung Hulu Sungai Kapuas

Hulu Sungai Kapus dari Jembatan Gantung

Di saat bertemu mereka saya melihat sorot mata penuh dengan antusias atas pertemuan ini. dan sore itu saya mandi di sungai bungan, sungai yang jernih dan banyak bebatuan, tapi bukan batu akik smile emotikon. dan ada yang bertanya "hek aran koh " dan saya cuman tersenyum, ternyata mereka bertanya siapa namaku, Hek Aran Koh (Siapa Namamu). itu adalah bahasa bungan, bahasa asli suku dayak punan. suatu kehormatan bisa berjumpa dengan mereka. karena didunia ini tidak ada yang kebetulan. dan tidak semua orang mendapatkan kesempatan dan kehormatan untuk bisa bertemu dan belajar banyak dari mereka. Alam akan mengajarkan banyak hal tentang kehidupan ini.
8 Ramadhan 1436 H

0 komentar:

Posting Komentar