2. Islam dan Politik
Hasan al-Banna menyadari kan dari sikap pemimpin di negara – negara islam yang dipengaruhi oleh eropa yang telah memishakan agama dari politik pemerintahan. Hasan al-Banna memperingatkan akan bahaya kesalahan fatal yang dilakukan oleh para pemimpin ini dengan menjauhkan agama islam dari politik dan dari urusan umat islam. Hasan al-Banna menjelaskan bahwa para pemimpin politik dan pemerintahan dinegara – negara Muslim telah merusak sentimen agama islam dari jiwa umatnya, merusak kesadaran agama islam dalam setiap kejadian yang menimpa mereka atau memberikan pernyataan dan perbuatan yang senantiasa menjauhkan antara ajaran agama dengan kebijaksanaan – kebijaksanaan politik. Hasan al-Banna menyebutkan bahwa hal ini adalah awal dari kelemahan dan kerusakan. )
Hasan al-Banna menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang universal yang meliputi semua unsur kehidupan. Hasan al-Banna menjelaskan bahwa islam adalah agama yang universal yang meliputi semua unsur kehidupan. Hasan al-Banna mengkrtitik pemisahan antara agama dan politik, beliau menjelaskan bahwa setiap gerakan islam yang menjauhkan politik dari cita – citanya tidak tepat dikatakan sebagai gerakan islam dengan pemahaman yang universal terhadap ajaran agama ini.
Hasan al-Banna mengatakan pada konfrensi pelajar Ikhwanul Muslimin bahwa ” Dapat aku sampaikan dengan tegas bahwa seorang muslim tidak akan sempurna agamanya kecuali jika menjadi seorang politikus, memiliki pandangan jauh tentang problematika umatnya, memperhatikan urusan – urusan mereka dan bersedia untuk membantu mencari jalan keluarnya, dapat aku katakan bahwa pembatasan dan pembuangan agama ini adalah sikap yang tidak diakui oleh agama islam. Maka kepada setiap organisasi islam agar menjadikan prioritas programnya adalah memperhatikan urusan politik umat islam. Kalau tidak maka ia sendiri perlu untuk memahami kembali akan makna islam. )
3. Ikhwanul Muslimin dan Politik
Hasan al-Banna menjelaskan dengan berbagai bukti yang kuat bahwa islam datang dengan membawa ajaran politik untuk membahagiakan umat manusia secara keseluruhan. Hasan al-Banna mengambil dalil – dalil dari teks Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw. Hasan al-Banna menjelaskan bahwa pemisahan agama dari politik adalah virus yang dikirim dari negara barat, mereka telah menyebarkannya kepada para pemimpin dunia islam. Hasan al-Banna juga menjelaskan bahwa sikap Ikhwanul Muslimin dalah sikap gerakan islam yang menyeru kepada ajaran agama islam dengan pemahaman yang sempurna, yaitu agama islam yang mengatur semua urusan kehidupan umat manusia dan segi – segi kehidupan mereka.
Setelah menjelaskan makna diatas Hasan al-Banna mengatakan , ” Allah mengetahui, wahai saudaraku sekalian, bahwa aktivis – aktivis Ikhwanul Muslimun dimanapun, adalah ahli politik. Pada saat yang sama mereka adalah umat islam yang sejati. Dakwah mereka tidak membedakan antara politik dan agama. )
Hasan al-Banna menjelaskan tentang orang yang berpendapat bahwa agama islam ini tidak menyinggung urusan politik atau menyatakan bahwa politik tidak menjadi salah satu dari ajarannya, maka ia telah menganiaya dirinya sendiri dan pengetahuannya ini telah menganiaya agama islam. Saya tidak mengatakan bahwa agama islam mengajarkan kezaliman, tetapi islam adalah syari’at Allah yang tidak ada kebatilan sedikit pun. Alangkah indahnya perkataan Imam Ghazali, ” Ketahuilah bahwa syari’at adalah dasarnya dan kekuasaan adalah penjaganya. Sesuatu yang tidak ada dasarnya akan hancur dan sesuatu yang tidak ada penjaganya akan hilang. Negara islam tidak dapat berdiri berdasarkan asas dakwah kecuali negara ini ini menjadi negara risalah. Ia bukan sekadar urusan administrasi.. Bukan pula pemerintahan materialis statis yang buta dan tidak memiliki ruh. Sebagaimana juga dakwah tidak dapat dilaksanakan kecuali dalam penjagaan yang memeliharanya, menyebarkannya, menyampaikannya dan mendukungnya. )
Hasan al-Banna menjelaskan tentang sikap politik Ikhwanul Muslimin dengan sangat tegas ketika mengatakan dalam sebuah tulisan yang berjudul ” Kami dan Politik ” dalam risalah, ” Ila Ay Syai’in Nad’u An – Naas” ( kepada apa kami mengajak manusia )dengan perkataan sebagai berikut, ” Wahai kaumku, kami menyerukan kepada kalian. Al Qur’an diletakkan disebelah kanan kita dan sunnah Rasulullah saw diletakkan disebelah kiri kita. Perilaku salaf yang shalih dari generasi umat ini adalah teladan kita. Kami mengajak kalian kepada Al-islam. Kepada ajaran – ajaran agama islam. Kepada hukum – hukum islam dan kepada petunjuk agama islam. Semua ini adalah bagian dari politik dan ini adalah politik kami. Dan jika orang mengajak kalian kepada dasar – dasar seperti ini disebut sebagai seorang politikus maka kami adalah orang yang berpengalaman dalam berpolitik.”
” Dalam ajaran agama islam diajarkan, tentang politik yang membawa kepada kebahagiaan dunia dan kebahagiaan dunia dan kebahagian akhirat. Itu adalah politik kami dan kami tidak akan mencari jalan yang lain. Berpolitiklah kalian. Ajaklah orang lain kepada politik maka kalian akan menemukan kemuliaan akhirat dan kalian akan mengetahui cerita yang sebenarnya kelak di kemudian hari”. )
Dalam risalah Al- Muktamar As- Sadis atau ” muktamar yang ke enam ” Kami adalah politikus, dalam arti, kami memperhatikan urusan- urusan umat ini. Kami yakin bahwa kekuatan eksekutif adalah bagian dari ajaran agama islam. Ia termasuk dalam kerangka agama islam dan menjadi bagian dari hukum – hukum islam. Kebebasan berpolitik dan kerhormatan nasional adalah salah satu rukun dari rukun agama islam dan menjadi slah satu kewajiban dari kewajiban agama ini. Kami berusaha dengan sunggh – sungguh untuk melengkapi kebebasan inidan untuk memperbaiki alat eksekutif ini. Kami memanglah demikian. Kami berkeyakinan bahwa kami tidak membawa sesuatu yang baru. Ini adalah sesuatu yang sudah diketahui oleh setiap muslim yang mempelajari agama islam secara benar. Kami hanya mengenal dakwah kami dan kami tidak mengetahui arti keberadaan kami kecuali untuk merealisasikan tugas – tugas ini. Dengan demikian, kami tidak keluar sehelai rambut pun berdakwah kepada agama islam. Islam tidak cukup disampaikan dengan nasehat atau ceramah tetapi selalu mendorong kepada perjuangan dan jihad.
Allah berfirman ,
” Dan orang – orang yang berjihad untuk( mencari keridaan) kami, benar – benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan – jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar – benar beserta orang – orang yang berbuat baik ”(QS. Al-Ankabut(29):69) )
Senin, 04 Juli 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




0 komentar:
Posting Komentar