Ramadhan Kali ini menjadi Ramadhan yang sangat spesial insyallah buat diri penulis kenapa ? karena selama hidup sang penulis baru merasakan Ramadhan yang berwarna dan itu adalah Ramadhan tahun ini 1434 H. Dimana Ramadhan kali walau ada selisih diantara masyarakat muslim diindonesia mengenai kapan awal puasa namun itu tidak menyurutkan langkah untuk memperbaiki diri lebih baik di ramadhan kali in.
Ramadhan diawali dengan sahur jauh dari orang tua karna tuntutan mencari ilmu, rasanya sedikit berbeda ketika bisa sahur bersama kedua orang tua dirumah sungguh tidak ada duanya. namun dengan berusaha memaksimalkan waktu yang ada saya mencoba untuk berusaha pulang kerumah dengan membawakan kurma kesukaan Abah yaitu Palm Fruit. Dengan penuh semangat mengemudikan sepeda motor menyusuri jalanan diantara pohon untuk kertas apa itu namanya ?? oh ya akasia saya menyebutnya.
Beberapa jam kemudian akhirnya saya sampai juga di rumah, pas banget bentar lagi waktu buka akhirnya membersihkan diri dan bersiap buka bareng ortu ni dan rasanya luar biasa melihat abah yang berjalan dengan pelan - pelan karena sakitnya blm sembuh total namun alhamdulialh udah bisa tegak dengan menggunakan tongkat tidak seperti setahun yang lalu haru menggunakan kursi roda, wajah yang bahagia dengan memakan kurma yang saya beli tadi ketika saya mau pulang dengan mengatakan nah ini kurma yang enak, manisnya asli g kayak kurma kemaren itu rasanya manisnya kayak gula, saya hanya bisa tersenyum.
selesai berbuka sambil menunggu waktu Isya tiba saya isi waktu kosong tersebut dengan tilawah , Isya pun tiba bergegas saya menuju ke masjid didesa saya, sampai disana saya bertemu teman - teman sepermainan yang udah lama g berjumpa karena saya selama kuliah jarang banget pulang ni ke desa ini,
Mereka berbeda sekali dengan dulu mereka kini banyak yang penampilannya mengalah saya, sungguh motornya rata - rata motor gede, hpnya BB dan yang dibicarakannya masalah pacar, dan sangat menyedihkan dahulu saya SMA masih ada yang membaca Al - Qur'an secara bergantian di masjid, dalam bahasanya saya ndarus gitu, namun kini tidak ada lagi yang ada malah pak imam yang sudah lanjut usia umurnya sekitar 60 an gitu dengan suara yang yang sudah termakan usia.
Para Pemudanya sungguh sangat berbeda, inilah pengaruh globalisasi yang sengaja di ciptakan untuk pemuda dan pemudi muslim dimana mereka dijauhkan dari agama (Bersambung)
Selasa, 30 Juli 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




0 komentar:
Posting Komentar