PENDAHULUAN
Tumbuhan merupakan salah satu sumber daya alam penting, yang memiliki nilai khusus baik dari segi ekonomi maupun sebagai paru-paru planet bumi. Tumbuhan merupakan tempat terjadinya sinte- sis senyawa organik yang kompleks menghasilkan sederet golongan se- nyawa dengan berbagai macam struktur. Usaha pencarian senyawa baru terhadap tumbuhan yang be- lum banyak diteliti akan lebih me-
∗Penulis untuk korespondensi HP. 0812-
7537668, E-mail : Jimmi@utanri.ac.id
tanarik dan prospektif karena kemungkinan lebih besar menemu- kan senyawa baru atau mungkin senyawa eksotis.
Tumbuhan rengas termasuk famili Anacardiaceae merupakan sumber kayu yang penting di Indo- nesia. Spesies ini dikenal karena getahnya sangat beracun yang dapat menyebabkan iritasi berat pada ku- lit dan dapat melumpuhkan orang. Kadang-kadang penduduk asli menggunakan getahnya sebagai ra- cun untuk berburu binatang (Heyne,
1987).
Berdasarkan studi pustaka, tumbuhan ini belum banyak diteliti. Penelitian sebelumnya pada getah rengas dilaporkan senyawa ursiol, rengol, glutarengol, laccol dan thitsiol (Backer, 1941). Penelitian pada kayu rengas dilaporkan senya- wa golongan steroid, lipid, benze- noid dan flavonoid (Imamura, et.al.,1979), sedangkan penelitian pada bagian tumbuhan lainnya seperti akar, buah, bunga, kulit batang dan lain-lain belum banyak dilaporkan.
BAHAN DAN METODE
Bahan tumbuhan yang akan diteliti adalah kulit batang rengas, dikumpulkan pada bulan Maret tahun 2001 dari pinggiran sungai Siak Pekanbaru, Riau. Spesies ini dideterminasi di Herbarium Ban- dungense Institut Teknologi Ban- dung dan spesimennya disimpan disana.
Peralatan yang digunakan untuk keperluan ekstraksi yaitu: seperangkat alat destilasi, mase- rator, pengisat gasing hampa, pema- nas air elektrik, kolom kromatografi berbagai ukuran, pengukur titik leleh “Fisher Jhon”, lampu UV dan alat-alat gelas yang biasa digunakan di laboratorium kimia organik. Untuk penentuan struktur diguna- kan alat-alat sebagai berikut,
spektrometri ultraviolet (UV), spektrometri FTIR 8501 Shimadzu, spektrometri resonansi magnet inti proton (RMI-1H) dan spektrometri resonansi magnet inti karbon-13 (RMI-13C). Sebanyak 1,2 kg kulit batang rengas yang telah dibersihkan dan dikeringkan di udara terbuka (kadar air 8,5% dan kadar abu 5,2 %) digiling halus (100 mesh), dimaserasi dengan heksen selama 3x24 jam. Ekstrak heksen dikisat- kan dan residu dikeringkan di udara terbuka sampai bau heksen hilang. Dengan cara yang sama residu dimaserasi kembali masing-masing dengan pelarut diklorometan dan metanol. Fraksi metanol kemudian difraksinasi menggunakan kroma- tografi kolom cair vakum (KCV) pada silika gel 60 (230-400 mesh) dengan eluen: A.Heksen-aseton (7:3); B. Heksen-aseton (1:1); C. Heksan - aseton (3:7) ; D. Aseton 100%; dan E. Metanol 100%.Fraksi fraksi yang diperoleh dipekatkan dan diuji flavonoid.
Fraksi C (heksan-aseton 3:7) dipisahkan dengan kromatografi ko- lom gravitasi (KKG) dengan eluen kloroform-etil asetat-aseton, ditam- pung 70 fraksi @ 5 ml. Dari pemi- sahan tadi dianalisis KLT dan dipe- roleh empat fraksi utama yaitu frak- si Cl (1-19) 62,5 mg, C2 (20-29),48,2 mg, C3 (30-46) 340,8 mg dan fraksi C4 (47-70) 525,0 mg. Fraksi C3 selanjutnya dipisahkan kembali dengan KKG, ditampung 60 fraksi
@ 2,5 ml dan dianalisis KLT. Hasil analisis KLT dikelompokkan men- jadi tiga fraksi yaitu C3.1 (15-24),45,1 mg, C3.2 (29-42) 87,9 mg dan fraksi C3.3 (45-60) 73,2 mg. Dari pengamatan KLT terlihat fraksi C3.3 menunjukkan satu noda (dengan sedikit pengotor) selanjut- nya dimurnikan dengan penam- bahan arang aktif. Hasil pemurnian fraksi C3.3 diperoleh padatan amorf berwarna jingga seberat 41,1 mg.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gallokatekin diperoleh seba- gai padatan amorf berwarna jingga, titik leleh 213-215oC terurai, uji FeCl3 memberikan warna hijau tua dan uji Mg-HCl negatif yang me-
nunjukkan senyawa fenol , [α] 25 =D +66,7 dalam aseton-air 1:1 v/v, UV (MeOH) λmaks nm (log ε) 272 (2,70) dan 306 (bh, 2,48), menunjukkan senyawa ini mempunyai kerangka flavan (Markham,1988). Analisis ini didukung oleh data spektrum IR yang tidak memperlihatkan serapan gugus karbonil di daerah 1650-
1700 cm-1. Data spektrum IR me- nunjukkan adanya serapan gugus hidroksi pada γmaks 3200-3400 cm-1, dan cincin benzen pada 1626, 1520,1462 cm-1, sedangkan vibrasi ulur C-H alifatik ditandai dengan mun- culnya puncak serapan di daerah 2923 & 2852 cm- 1. Spektrum RMI-1H (aseton d6, 270 MHz) menunjukkan adanya sinyal pada δ ppm. 4,51 (1H, d, J = 7,6), 3,96 (1H, bs), 2,87 (1H,dd, J =
5,1 dan 16,2 Hz), 2,52 (1H, dd, J = 8,1 dan 16,2 Hz) yang merupakan karakteristik dari suatu kerangka flavan-3-ol, masing-masing untuk resonansi proton pada H-2,H-3, H- 4α dan H-4β (Markham, et. al, 1994). Dua sinyal yang muncul pada δ ppm 5,87 (1H,d, J = 2,4 Hz), 6,02 (1H, d, J = 2,4 Hz) berasal dari proton H-8 dan H-6 pada cincin A, yang bere-sonansi meta. Satu sinyal yang muncul pada pergeseran kimia
6,45 (2H, s) berasal dari proton aromatik yaitu H-2’ dan H-6’ yang setara lingkungan kimia. Spektrum RMI-13C (aseton d6, 67,5 MHz) senyawa gallokatekin memperlihat- kan adanya 13 atom karbon, yang terdiri dari tiga karbon sp3 dan sepuluh karbon sp2 yang teroksi- gensi maupun tidak. Ketiga atom karbon sp3 beresonansi pada 82,5,
68,2 dan 28,7 masing-masing untuk C-2 (-CH-O-), C-3 (-CH-O-) dan C-(-CH2-), karakteristik suatu flavan-3-ol ( Markham,et.al, 1994 ).
Sinyal pada δ 106 dan 146,5 ppm diduga berasal dari dua pasang
atom karbon aromatik yang mem- punyai kedudukan ekivalen geser- an kimia yaitu C-2’ dan C-6’ serta C-3’ dan C-5’. Dari analisis spek-
trum RMI-13C dapat diambil kesim-
pulan bahwa jumlah atom karbon adalah 15 sesuai dengan kerangka
flavan-3-ol. Berdasarkan analisis UV, IR, RMI-1H dan RMI-13C dapat diambil kesimpulan bahwa senyawa turunan flavan-3-ol yang teroksigensi pada C-5, 7, 3’, 4’, 5’.
Data RMI-13C dari senyawa
dihidromirisetin (Gambar. 1) yang
Gambar 1. Struktur senyawa gallokatekin (A), dihidromirisetin (B) dan katekin (C)
Tabel 1. Geseran kimia (δ ppm ) spektrum RMI-13C senyawa gallokatekin hasil
isolasi karbon adalah 15 dengan senyawa dihidromirisetin yang
dilaporkan Chien-Chang Shen (1993)
C Gallokatekin Dihirdomirisetin
1’ 131,3 127,1
2’ 107,0 106,9
3’ 146,0 145,6
4’ 133,1 133,4
5’ 146,0 145,6
6’ 107,0 106,9
Tabel 2. Geseran kimia (δ ppm) spektrum RMI-13C senyawa gallokatekin hasil isolasi dengan senyawa katekin yang dilaporkan (Achmad, S.A.,1999)
C Gallokatekin Dihirdomirisetin
2 82,6 82,7
3 68,2 68,3
4 28,4 29,7
5 156,9 157,2
6 95,8 96,1
7 157,4 157,7
8 85,2 95,4
9 156,5 156,9
10 100,4 100,6
mempunyai pola oksigensi yang sama dengan gallokatekin memper- tegas posisi atom karbon pada cincin B kerangka senyawa hasil isolasi. Perbandingan pergeseran untuk setiap atom karbon pada cincin B dari hasil isolasi dengan senyawa dihidromirisetin memperlihatkan kesamaan, seperti yang terlihat pada tabel 1, sedangkan untuk cincin A dan C, sebagai pembanding adalah senya- wa katekin yang mempunyai ke- rangka dan pola oksigenasi yang sama (Tabel 2.). Pada Tabel 2 terlihat adanya kesamaan perge- seran untuk setiap atom karbon pada cincin A dan C dari kedua senyawa ini.
Dengan demikian dapat disim- pulkan bahwa senyawa ini adalah gallokatekin (5,7,3’,4’,5’,-pentahid- roksiflavan-3-ol). Penentuan se- mentara struktur molekul ini sebe- narnya harus dibuktikan dengan pengukuran spektrum massa (MS), namun dari analisis data yang ada dan segi perolehan struktur dirasa sudah cukup. Senyawa gallokatekin ditunjukkan oleh struktur pada Gambar 1.
KESIMPULAN
Berdasarkan analisis data yang diperoleh, dari ekstrak MeOH kulit batang Gluta renghas Linn
telah berhasil diisolasi senyawa flavonoid 5,7,3’,4’,5’,-pentahidrok- siflavan-3-ol atau gallokatekin se- banyak 41,1 mg. Dari studi literatur yang kami lakukan senyawa ini (gallokatekin) belum pernah dilaporkan sebelumnya pada spesies Gluta renghas Linn.
Penentuan struktur gallokate- kin hasil isolasi dilakukan dengan metode spektroskopi antara lain: spektrometri ultraviolet (UV), spek- trometri infra-merah (IR), spektro- metri resonansi magnet inti proton
(RMI-1H) dan spektrometri reso-
nansi magnet inti karbon (RMI-
13C).
UCAPAN TERIMA KASIH
Penelitian ini sebahagian didu- kung oleh dana Dik Suplemen (DPP-SPP) tahun anggaran 2001
Lembaga Penelitian Univesitas Riau. Terima kasih kami sampaikan kepada Prof. Dr. Hideo Hayashi dan Dr. Unang Supratman dari Osaka Prefecture University, Sakai-Osaka, Jepang, atas bantuan pengukuran
spektrum NMR-1H dan NMR-13C.
DAFTAR PUSTAKA
Achmad, S.A., Agustini, D.M., Mak mur, L., Ghisalberti, E.L., Hakim, E.H., Syah, Y.M., (1999), Prosiding Seminar Nasional Kimia Bahan Alam ’99, Universitas Indonesia, Jakarta.
Backer, H.J., Hack, N.H. (1941), Le Principle toxique du Gluta renghas Linn., Rec. Trav. Chim., Pays-Bas, Netherland, 60, 656-
660.
Heyne, K. (1987), Tumbuhan Berguna Indonesia, a.b. Badan Litbang Kehutanan Jakarta, Jilid III, Yayasan Sarana Warna Jaya, Jakarta.
Imamura,H. Ohta,H. Kiriyama, S.Ohashi, H. (1979), Heart Wood constituent of Rengas, gluta sp., Res. Bull. Agr. Gifu. Univ. Japan, Japan, 117-122.
Markham,K.R.,and Geiger,H. (1994), H Nuclear magnetic resonance spectroscopy of flavonoids and their glycosides in heksadeutero- dimethylsulfoxide. Didalam Harborn J.B., The Flavonoids: Advances in Reseacsh Scince, Chapman and Hall Limited London.
Shen.C-C,Chang.Y-S,Ho L-K. (1993),
Nuclear magnetic resonance stu- dies of 5,7 dihidroxyflavonoids, Phytoche
Jumat, 28 September 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




apakah pada bagian lain pada batang rengas juga terdapat flavonoid ????
BalasHapusapakaha terdapat GALLOKATEKIN pada tumbuhan DARI KULIT BATANG RENGAS (Gluta renghas Linn.)
BalasHapuskenapa pada Penentuan struktur gallokate- kin hasil isolasi dilakukan dengan metode
BalasHapusspektrometri ultraviolet (UV)
Sumber Kami dari Jimmi Copriady*, Miharty, Herdini
BalasHapusFakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau
Jurnal Natur Indonesia, 4 (1)
ISSN 1410-9379
sumber dari www.unri.ac.id/jurnal/jurnal_natur/vol4(1)/Jimmy.pdf
BalasHapus